Nilai Budaya Bugis Jadi Langkah Nyata Membangun Karakter Anak dan Cegah Bullying
Isu perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan dasar hingga kini masih menjadi perhatian serius berbagai pihak, mulai dari pendidik, orang tua, hingga pemerhati dunia pendidikan. Tindakan bullying tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis jangka panjang bagi anak, seperti menurunnya rasa percaya diri, terganggunya perkembangan sosial, hingga pembentukan karakter yang kurang optimal. Oleh karena itu, upaya pencegahan bullying memerlukan pendekatan menyeluruh dengan melibatkan seluruh unsur pendukung pendidikan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan tersebut, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi 3S di Bumi Nene Mallomo: Penanaman Nilai Budaya Bugis sebagai Upaya Pencegahan Bullying . Kegiatan ini menyasar siswa sekolah dasar serta orang tua dan dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2026 bertempat di UPT SDN 07 Timoreng Panua . Program ini dirancang sebagai langkah preventif untuk meningkatkan kesadaran bersama akan bahaya bullying serta pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif bagi anak.
Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai berbagai bentuk perundungan yang sering terjadi di lingkungan sekolah, dampak negatif yang ditimbulkan, serta strategi pencegahan yang dapat diterapkan sejak usia dini. Selain itu, peserta juga memperkenalkan peraturan terkait perlindungan anak dari tindakan bullying. Penyampaian materi dilakukan secara edukatif dan partisipatif agar mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Pada sesi anak-anak, materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana, didukung media audiovisual, serta diselingi kegiatan icebreaking guna menjaga antusiasme. Anak-anak diajak mengenali berbagai jenis perundungan, termasuk perundungan verbal yang sering dianggap sepele, sekaligus menanamkan nilai empati, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk melaporkan tindakan bullying.
Sementara itu, sesi untuk orang tua difokuskan pada penguatan peran keluarga dalam pembentukan karakter anak. Dalam pemaparannya, Hijriyah Puspitasari , mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, menekankan bahwa anak pada dasarnya ingin didengarkan, bukan sekadar dinasihati. Oleh karena itu, orang tua perlu dibekali pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang hangat, penerapan pola asuh positif, serta keteladanan dalam menanamkan nilai-nilai moral di lingkungan keluarga.
Menariknya, kegiatan ini juga mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Bugis, yaitu sipakatau , sipakalebbi , dan sipakainge , sebagai fondasi dalam membangun budaya anti-bullying sejak usia dini. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang semakin kuat antara sekolah dan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan.
*KKN-T 115 UNHAS*
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin